1000 Kisah Jawa di Ullen Sentalu

January 18, 2008

 

ulen-sentalu.jpg
Museum Ullen Sentalu menyimpan segudang kisah menarik yang selama ini terkubur di balik tembok keraton Yogya dan Solo. Museum kebudayaan Jawa Ullen Sentalu, terletak di Jl. Boyong di daerah Kaliurang Atas Yogyakarta. Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan sebuah petuah yang cukup terkenal dalam bahasa Jawa ulating blencong sejatine tatarane lumaku—terjemahan kasarnya pelita kehidupan.

Dinamakan demikian karena museum ini memang didirikan agar bisa menjadi “pelita” agar masyarakat Jawa tak melupakan begitu saja sejarahnya yang kaya. Museum ini didirikan di tahun 1980-an oleh Yayasan Ulating Blencong, sebuah yayasan yang bertujuan untuk melestarikan tradisi sekaligus merekam sejarah keraton di solo dan Yogya.

Bangunan museum yang didirikan di sebuah lahan seluas 1,7 hektar ini dirancang oleh DR. Samuel Wedyadiningrat, DSB.Konk, seorang ahli bedah kanker di Rumah Sakit Darmais sekaligus ketua Yayasan Ulating Blencong saat itu.

Awal berdiri, museum ini hanya boleh dikunjungi keluarga keraton. Barulah pada 1997 museum mulai dibuka untuk umum. Saat dibuka belum banyak orang yang mengetahui keberadaan museum ini. Pun saat ini, keberadaan museum ini seolah “bersembunyi” dari padangan khalayak ramai.

Karena awalnya tak dimaksudkan untuk konsumsi umum, museum ini berada di daerah yang agak sulit dijangkau, letaknya di atas bukit, sementara hanya ada satu penanda jalan menuju museum ini, cetakan huruf di penanda itupun sudah mulai memudar sehingga agak sulit dibaca. Orang yang baru pertamakali berkunjung harus banyak-banyak bertanya agar tak tersesat.

Untuk masuk, biaya yang harus dikeluarkan relatif mahal. Pihak museum memasang tarif Rp 15.000 untuk pelajar dan mahasiswa, dan Rp.25.000 untuk umum. Sementara wisatawan asing harus membayar Rp. 50.000 untuk masuk ke museum ini.

Namun ternyata jumlah uang yang harus dikeluarkan itu amat sepadan dengan pelayanan yang diberikan pihak museum. Sekecil apapun sebuah rombongan, pihak museum menyediakan seorang guide untuk memandu setiap rombongannya.

Museum dibagi menjadi tujuh bagian besar: Ruangan Selamat Datang, Guwo Selo Giri, sebuah ruangan bawah tanah dengan arsitektur yang mirip arsitektur Gothic, Kampung Kambangan (atau kampung di atas air), Taman, serta sebuah galeri yang dinamai Djagad Akademik Modern Art Gallery.

Kampung Kambangan dibagi menjadi beberapa ruangan kecil: Ruangan Tinneke , Ruangan Paes Ageng Yogyakarta, Ruangan Vorstendlanden Batik, Ruangan Batik Pesisiran dan Ruangan Gusti Nurul.

 

Ruangan pertama, Ruangan Selamat Datang, semacam ruangan “pemanasan” yang memberikan gambaran kasar kepada pengunjung tetang isi museum secara keseluruhan. Ruangan ditata apik dengan pencahayaan yang sedikit temaram Di dalamnya salah satu sudut ruangan ini terpampang gambar ibu Hartini, istri keempat Presiden Soekarno

 

“ Konon kebiasaan ibu Hartini yang selalu mengenakan kebaya dan batik dalam berbagai acara kenegaraanlah yang kemudian mendorong Presiden Soekarno untuk menjadikan kebaya dan batik sebagai pakaian nasional. Sebelumnya Soekarno sudah mengetahui banyak hal tentang Batik dari istri keduanya, Ibu Inggit Ganarsih,” ujar Wiwin, yang memandu rombongan mengelingi museum ini. Hartini adalah salah satu pelindung museum yang didirikan pada tahun 1980-an ini.

 

Ruangan ini juga memajang foto-foto Kassian Cephass, orang yang dianggap sebagai fotografer pertama di Indonesia. Foto-foto itu menampilkan sosok sensual beberapa orang perempuan pekerja perkebunan.

 

Di ruangan ini pulalah terpampang foto Hartini Djayadiningrat. Putri Mangkunegara VII dari salah seorang selirnya. Beliau terkenal cerdas, dan selama hidupnya ia telah membuat beberapa buah buku diantaranya yang cukup terkenal adalah Ande-Ande Lumut. Partini kemudian menikah dengan seorang bansawan dari Banten DR. Hussein Djayadininingrat. “ Partini adalah juga nenek dari sutradara terkenal Dimas Djayadiningrat,” ujar Wiwin. Pengetahuannya yang cukup luas mengenai silsilah keluarga kerajaan hingga saat inilah yang membuat keterangannya menjadi lebih menarik untuk disimak.

 

Ruangan selanjutnya Guwo Selo Giri, memajang gambar-gambar tokoh-tokoh kerajaan yang menonjol. Dalam ruangan ini juga pengunjung mendapat cerita-cerita kecil yang menarik semisal bagaimana Hamengkubuwono IX biasa dipanggil Prince Hengky oleh Induk Semangnya. Atau Pakubuwono 12 yang juga kerap dipanggil Bobby oleh orang Belanda teman-temannya.

 

Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Yogyakarta masih berbentuk kerajaan. Hamengkubuwono IX dan Pakubuwono XII memprakarsai bersatunya Yogyakarta dengan Indonesia. Oleh karena inilah Presiden Soekarno kemudian memberikan status Daerah Istimewa bagi Yogyakarta.

 

Wiwin juga menceritakan kecerdikan Hamengkubuwono IX, “ saat Jepang masuk ke Indonesia, rakyat Yogya terancam kerja paksa Romusha.” Demi menghindari hal ini, Sultan pun menyampaikan maksudnya kepada pihak Jepang untuk membangun Selokan Mataram.

 

” Alasan Sultan waktu itu, keberadaan selokan akan memperlancar pengairan dan menyuburkan tanaman padi, yang sudah pasti akan membantu logistik Jepang,” ujar Wiwin. Pihak Jepang setuju dan banyak rakyat Yogya yang terselamatkan dari kerja rodi.

 

Dalam ruangan ini terpajang juga foto Pakubuwono 10, raja terkaya di pulau Jawa. Pada 1907 ia menjadi orang pertama yang mampu membeli mobil. Pakubuwono 10 memiliki dua orang permaisuri, 39 orang selir dan 63 orang anak.

 

Menuju bagian museum yang lain, Kampung Kambangan atau kampung di atas air, pengunjung akan diajak masuk ke dalam beberapa ruangan kecil. Salah satunya adalah ruangan Gusti Nurul. Ruangan ini menampilkan foto-foto Gusti Nurul dalam berbagai usia, juga barang-barang yang biasa digunakannya saat masih berada dalam keraton.

 

Cerita hidup Gusti Nurul memang cukup menarik untuk disimak, beliau dilahirkan pada 1921 oleh Ratu Timur, permaisuri Mangkunegara Tujuh. Saat lahir orangtuanya memberinya nama Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamari Nasaratih Kusumawardhani. Meski tumbuh dibalik tembok keraton, sang putri yang disekolahkan di sekolah Belanda, memiliki gaya dan pandangan hidup yang terhitung amat modern untuk masanya.

Sang putri gemar berkuda (sesuatu yang saat itu amat ditabukan untuk seorang putri keraton), juga berenang, dan amat mahir bermain tenis. Ayahnya mengamini kegemaran putrinya ini dengan membelikan seekor kuda khusus dari Australia.

Gusti Nurul tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas, juga tak segan mengemukakan pendapatnya. Banyak sekali yang mengagumi putri yang satu ini, Presiden Soekarno adalah salah satunya. Sebegitu terpesonanya ia pada sang putri, sampai-sampai saat ia mengundang Gusti Nurul ke Vila Cipanas, ia khusus meminta pelukis Basuki Abdullah untuk mengabadikan sosok Gusti Nurul dalam lukisan. Lukisan itu kemudian dipajang di kamar kerja Soekarno di Vila Cipanas.

Hal lain yang amat istimewa, Gusti Nurul adalah putri pertama yang secara tegas menolak dipoligami. Oleh karena pandangan tegas inilah Gusti Nurul baru mau menikah saat usianya menginjak tiga puluh tahun. Saat ini Gusti Nurul yang telah berusia delapan puluh enam tahun hidup di Bandung.

Kampung Kambangan masih memiliki beberapa ruangan lain yang secara khusus bercerita tentang batik. Sementara Ruangan terakhir, ruang Paes Ageng, menampilkan pakaian pengantin, serta lukisan yang berhubungan dengan pesta pernikahan yang biasa diadakan di kesultanan.

Untuk nyaman mengelilingi seluruh ruangan yang ada di museum ini dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Pengunjung akan mendapatkan cerita yang lengkap mengenai perbagai benda serta tokoh-tokoh menarik yang telah memberi warna dalam perjalanan sejarah keraton Yogya dan Solo.
Oleh karena itu sebaiknya jangan mengunjungi museum ini di hari libur, sebab guide yang disediakan pihak museum terbatas. dan saat ramai, besar kemungkinan pengunjung harus menunggu cukup lama hingga rombongan sebelumnya menyelesaikan tur mereka.

Setelah puas mengelingingi seluruh sudut museum, pengunjung biasanya diminta mengisi buku tamu sembari disuguhi segelas minuman khusus dengan rasa jahe yang terasa hangat di tenggorokan saat disesap. “ Ramuan ini dibuat dengan resep rahasia yang kerap diminum para putri keraton. Konon, jika rajin meminum ramuan ini, kita bisa awet muda,” ujar Wiwin.

Dwi Fitria

Entry Filed under: Budaya. .

12 Comments Add your own

  • 1. asry  |  May 6, 2008 at 2:37 pm

    emang keren baget tempatnya, serasa kembali ke masa lalu….pada waktu nenek2ku pada berkonde…hhihihihi….selain itu tempat ini menyimpan sekian banyak kenangan dari keraton2 jawa….pokoknya guys gw saranin datang aja ke tempat ini, dijamin lo pada ga kan rugi………..!!!!

    Reply
  • 2. sheilucu  |  July 1, 2008 at 10:08 pm

    humm,,bisa beri tahu jamu bukanya?ama harinya juga,,denger-denger hari senin tutup,,….tertarik banget buat mengunjungi ni,,,makasiihh…..

    Reply
  • 3. djanong  |  October 6, 2008 at 8:08 am

    ahh, gusti nurul!! :D

    Reply
  • 4. widya  |  October 8, 2008 at 3:06 am

    shrsnya ullen sentalu menyediakan buku tentang musium ini.Jd semua orang bisa lebih mengerti tentang seluk beluk ullen sentalu.

    Reply
  • 5. emma  |  October 30, 2008 at 6:24 am

    Asli tempatnya bagus banget, ga rugi jauh-jauh kesana..Udah gitu kesan mistis nya kerasa banget.Untuk foto – foto jg keren…

    Reply
  • 6. leo  |  December 16, 2008 at 8:45 am

    Keren banget tempatnya. Gak nyesel jauh2 dateng ke sana!!!

    Reply
  • 7. ismet  |  December 31, 2008 at 9:44 pm

    boleh gak ambil photo di dalem museum itu ?

    Reply
  • 8. tika  |  March 23, 2009 at 3:10 am

    mmmm….gak nyesel dateng ke ullen sentalu meski awalnya gak tau mau ke mana.
    keren…..

    Reply
  • 9. nana  |  April 1, 2009 at 9:46 am

    gusti Nurul…cantik bgt ya

    Reply
  • 10. yanti  |  June 8, 2009 at 5:30 am

    walau udah pernah kesana, masih pingin lagi lho… keren banget… coba pengelolaan semua museum seperti itu… dunia museum akan hidup dan menarik…

    Reply
  • 11. ani_kh  |  July 10, 2009 at 4:25 am

    ullen sentalu indah sejuk banget.. suasana tentram banget.. membawa kita ke masa lalu … betapa cantik nya putri pitri jaman dulu.. oh gusti nurul… :-)

    Reply
  • 12. Jangan  |  September 2, 2009 at 5:29 pm

    JANGAN!!!

    jangan datang…………
    jangan kesana……..
    tak kandani ati2……

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Categories

Archives

 

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blogroll