<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://fplh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fplh.wordpress.com</link>
	<description>Forum Pencinta Lingkungan Hidup</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jul 2009 06:27:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fplh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://fplh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fplh.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fplh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Zona Hijau Setelah Alpa</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/zona-hijau-setelah-alpa/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/zona-hijau-setelah-alpa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 13:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tata Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[HARI ini, menjadi hari terakhir bagi pedagang keramik Rawasari, Jakarta Pusat . Setelah digusur beberapa pekan silam, mereka masih menggelar dagangannya di pinggir jalan hingga beberapa hari kemudian. Tapi hari ini, Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI memastikan para pedagang harus cabut. Mereka adalah&#8221;korban&#8221; kedua penggusuran setelah pedagang Pasar Barito, Kebayopan Baru, Jakarta Selatan. Korban-korban lain bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=52&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HARI ini, menjadi hari terakhir bagi pedagang keramik Rawasari, Jakarta Pusat . Setelah digusur beberapa pekan silam, mereka masih menggelar dagangannya di pinggir jalan hingga beberapa hari kemudian. Tapi hari ini, Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI memastikan para pedagang harus cabut.<br />
Mereka adalah&#8221;korban&#8221; kedua penggusuran setelah pedagang Pasar Barito, Kebayopan Baru, Jakarta Selatan. Korban-korban lain bukan tak mungkin bakal bertambah. Acara gusur-menggusur itu akan terus dilakukan seiring dengan rencana Pemprov DKI menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di DKI Jakarta.<br />
Selain bangunan liar, Pemda juga menargetkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di taman atau jalur hijau. Menurut Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Sarwo Handayani, sebanyak 27 dari 31 SPBU di taman atau jalur hijau akan dilibas.<br />
Sebanyak 27 SPBU berada di kawasan Semanggi, Kwitang, Hayam Wuruk, Abdul Muis, Pejompongan, Lapangan Ros, dan beberapa lokasi lainnya. Setelah ditutup dan dibongkar, lahan itu akan diubah kembali menjadi taman. &#8220;SPBU-SPBU itu berdiri di lahan milik Pemprov DKI Jakarta dan tidak memiliki izin pendirian. Setelah digusur, pemprov tidak akan memberi alternatif lokasi baru bagi para pengelolanya,&#8221; kata Sarwo.</p>
<p><b>Stres</b></p>
<p>Bila benar pemerintah berencana mengembalikan RTH yang sudah beralih fungsi, tekad itu memang perlu didukung. Karena nilai ekonomi akibat kerusakan dan pengalihfungsian RTH yang harus ditanggung masyarakat sangat luar biasa. &#8220;Infeksi saluran pernapasan, stres, kemacetan sampai banjir. Jangan heran bila Jakarta sering terhantam banjir. Daerah yang tidak pernah banjir menjadi banjir. Atau daerah yang tadinya banjir hanya 20 senti menjadi satu meter,&#8221; kata pengamat Tata Kota Nirwono Joga kepada <i>Jurnal Nasional</i>. Intinya, langkah itu dilakukan untuk kepentingan bersama.<span id="more-52"></span><br />
Menurut Nirwono, sampai akhir tahun lalu RTH di DKI Jakarta hanya 9,6 persen saja dari luas kota. Padahal Rencanan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dibuat pada 2000 menyebutkan, Jakarta harus memiliki 13,94 persen RTH sampai 2010. Untuk mencapai target RTRW, pemerintah kira-kira masih membutuhkan sekitar 2.500 hektare lahan lagi untuk dijadikan ruang hijau. &#8220;Sedangkan kemampuan pemerintah untuk menambah RTH per tahun tidak lebih dari 50 hektar saja,&#8221; kata Nirwono.<br />
Target mencapai zona hijau ini semakin sulit dicapai mengingat berbagai kendala. Salah satunya masalah anggaran biaya. &#8220;Untuk membuat Taman Menteng seluas 3,4 hektar saja, pemprov membutuhkan dana sebesar Rp55,5 miliar. Bisa dibayangkan berapa banyak anggaran yang harus dikeluarkan untuk membuat 2.500 hektar,&#8221; tutur Nirwono lagi.<br />
Permasalah lainnya adalah soal lahan. Selama kurun 1965-2007, persentase RTH terus berkurang karena beralih fungsi. Banyak RTH yang berubah menjadi hotel, kantor, apartemen, pusat perbelanjaan sampai perumahan. Baik perumahan legal yang dikembangkan developper maupun perumahan liar yang dibangun oleh kaum marjinal.<br />
Selama puluhan tahun itu, pemerintah DKI juga alpa membangun taman-taman kota. Padahal investasi pembangunan taman akan lebih menguntungkan baik dari sisi ekologis maupun ekonomis. Nirwono mencontohkan, bila seseorang berinvestasi Rp20 miliar untuk pembangunan pusat perbelanjaan, modal itu memang bisa kembali dalam waktu 1-5 tahun.<br />
&#8220;Namun jangan lupa kondisi bangunan turun dari tahun ke tahun. Dengan demikian, nilai ekonominya pun ikut turun,&#8221; ujar Nirwono. Sementara bila dijadikan taman, fungsi lahan bisa terus bertambah. Nirwono mencontohkan kasus pembangunan Taman Kota Central Park di New   York, Amerika. Sekitar 100 tahun lalu, banyak orang memprotes pembangunan taman kota seluas 100 hektare itu.</p>
<p><b>Fungsi Penting</b></p>
<p>Namun puluhan tahun kemudian, daerah sekitar Central  Park justru menjadi wilayah perumahan yang banyak diincar. Orang berduyun-duyun untuk tinggal di sana karena kualitas alamnya bagus. Ini membuktikan bahwa RTH mempunyai nilai tinggi. Karena RTH memiliki fungsi penting, Nirwono menyarankan empat langkah yang harus dilakukan Pemda DKI Jakarta untuk mengembalikan RTH.<br />
Pertama, pembangunan RTH baru, dengan jalan membeli lahan yang kemudian dibangun taman. Kedua, refungsiliasi atau mengembalikan fungsi RTH. Selama ini banyak RTH yang masih belum berfungsi maksimal, seperti daerah kolong jembatan layang, sepanjang rel kereta, hingga bantaran kali. &#8220;Lahan-lahan ini perlu dihijaukan kembali demi kemananan dan keselamatan warga,&#8221; kata Nirwono.<br />
Menurut Nirwono, bila terjadi penggusuran warga yang tinggal di daerah-daerah tersebut maka langkah itu justru lebih manusiawi ketimbang mereka hidup dalam keadaan bahaya. Karena menurut peneliti konstruksi jalan layang, di kolong jalan layang harus bebas bangunan.<br />
Bila suatu waktu ada gempa bumi atau konstruksi jalan runtuh, maka jumlah korban jiwa juga tidak lebih banyak. Begitupun bila terjadi kebakaran. Ketiga revitalisasi RTH. Selama ini banyak RTH yang dibiarkan menjadi daerah mati, ditelantarkan dan tidak diolah. Padahal bila dibiarkan saja, RTH tersebut bisa menjadi sasaran empuk penghuni liar dan bisa beralih fungsi.<br />
Keempat, penanaman pohon. Kemampuan menanam pohon warga Jakarta tergolong sangat rendah. Sebaliknya, tingkat penebangan pohon begitu tinggi. Di Jakarta, 10 pohon ditebang dalam sehari. Itu berarti 3.660 pohon ditebang dalam setahun. Jumlah itu belum termasuk pohon tumbang atau yang ditebang untuk proyek busway.<br />
&#8220;Untuk proyek busway Pulogadung-Harmoni saja, ada 1.300 pohon yang ditebang. Itu baru satu proyek. Bagaimanan proyek-proyek lainnya&#8221; tutur Nirwono. Oleh karena itu, aksi penanaman pohon merupakan tindakan mendesak yang harus segera dilakukan.<br />
Menurut Nirwono, bila langkah ini dijadikan prioritas dan dilakukan konsisten dengan indikator dan batas waktu yang jelas. Maka dia memprediksi, lima tahun ke depan sudah ada perubahan pada wajah kota Jakarta.<span>  </span><b></b></p>
<p><b>Rizky Andriati Pohan</b><br />
<i>(Tulisan ini</i> <i> dimuat  dalam harian JurnalNasional edisi 18 Februari 200)</i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=52&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/zona-hijau-setelah-alpa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taman Menteng Tidak Pas</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/taman-menteng-tidak-pas/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/taman-menteng-tidak-pas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 12:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tata Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[  Sejak awal perencanaannya, Taman Menteng sudah dikonsep menjadi salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta. Sebagai RTH, sudah barang tentu Taman Menteng mesti berfungsi sebagai paru-paru kota serta daerah resapan air. Namun arsitektur taman yang dulunya Stadion Sepak Bola Persija ini justru melawan fungsi-fungsi itu. Agak tak pas menyebut taman yang diresmikan mantan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=51&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/taman-menteng.jpg" title="taman-menteng.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/taman-menteng.jpg?w=455" alt="taman-menteng.jpg" /></a></p>
<p>Sejak awal perencanaannya, Taman Menteng sudah dikonsep menjadi salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta. Sebagai RTH, sudah barang tentu Taman Menteng mesti berfungsi sebagai paru-paru kota serta daerah resapan air. Namun arsitektur taman yang dulunya Stadion Sepak Bola Persija ini justru melawan fungsi-fungsi itu.</p>
<p>Agak tak pas menyebut taman yang diresmikan mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso awal tahun lalu ini sebagai bangunan ramah lingkungan. Pertama, lihat saja bagian depan taman yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat ini. Di sana terdapat dua bangunan rumah kaca megah saling berhadap-hadapan. Secara estetika, kehadiran bangunan tersebut memang menambah kesan metropolis pada taman yang dibangun sejak 1921 itu.</p>
<p>Namun secara ekologis, bangunan tersebut justru tidak bersahabat dengan lingkungan dan juga tidak fungsional. Di daerah tropis, keberadaan rumah kaca tentu tidak pas. Karena material kaca tidak bisa menyerap sinar matahari dengan sempurna, sehingga sebagian radiasi matahari kembali dipantulkan ke langit dan menimbulkan pemanasan global.</p>
<p>Tak hanya itu, bangunan ini semakin tidak ramah lingkungan karena beberapa alat pendingin ruangan (AC) juga dipasang di dalammya. Hingga kini belum jelas benar fungsi rumah kaca itu. Bangunan tersebut selalu dibiarkan kosong melompong. Keberadaan lapangan parkir juga menambah kejanggalan taman seluas 3,4 hektar ini.<span id="more-51"></span></p>
<p>&#8220;Di negara manapun tidak ada taman yang dilengkapi dengan lapangan parkir,&#8221; kata pengamat tata kota Nirwono Joga kepada <i>Jurnal Nasional</i>. Keberadaan lapangan parkir justru sangat kontraproduktif dan tidak ramah lingkungan. Bagaimana tidak, setiap hari puluhan mobil masuk dan keluar ke taman itu. Kendaraan-kendaraan tersebut tentu membuang berbagai macam polutan berbahaya.</p>
<p>Namun jumlah tanaman atau pohon besar di sana tidak banyak. Sehingga penyerapan karbon tidak akan maksimal. &#8220;Untuk menahan karbon yang dikeluarkan satu mobil diperlukan 4 pohon besar,&#8221; tutur Nirwono lagi.</p>
<p>Kemampuan taman ini sebagai daerah resapan air pun sangat minim. Karena sekitar 50 persen wilayah taman yang sudah dipakai menir Belanda sebagai tempat olahraga ini adalah lapisan pengkerasan (hardscape). Di sana-sini, banyak areal yang disemen. Lapangan futsal dan basket termasuk bagian yang disemen.</p>
<p>&#8220;Seharusnya bisa saja kan lapangan futsal dibuat menggunakan rumput,&#8221; tutur Nirwono lagi. Padahal idealnya, sebuah RTH harus memiliki 80-90 persen wilayah resapan air. Nirwono mengaku, dirinya khawatir pembangunan taman yang salah kaprah seperti di Taman Menteng ini ditiru taman-taman lain.</p>
<p>Sebenarnya juga sedari awal Nirwono tidak pernah bersepaham dengan pengalihfungsian stadion Persija menjadi Taman Menteng. Karena stadion Persija memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Lebih lagi, berdasarkan beberapa perangkat hukum, seperti Perda No.9/1999, stadion Persija termasuk sebagai bangunan cagar budaya sehingga patut dilindungi. Menurutnya, tanpa harus menggusur stadion, pendirian taman kota masih bisa terpenuhi dengan arsitektur yang serba fungsional seperti mengikuti konsep Tradium (Trade dan Stadium) di beberapa negara lain.<span>  </span><b></b></p>
<p><b>Rizky Andriati Pohan</b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=51&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/taman-menteng-tidak-pas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/taman-menteng.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">taman-menteng.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uji Nyali Gusur Mall</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/uji-nyali-gusur-mall/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/uji-nyali-gusur-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 12:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tata Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, tekad pemerintah DKI Jakarta untuk menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tanah ibu kota semakin bulat. Salah satu langkah yang dilakukannya, pemerintah semakin rajin melakukan pembongkaran bangunan yang berdiri di kawasan RTH. Sepanjang dua bulan ini saja, sudah ada dua lahan yang digusur. Incaran pertama adalah Pasar Barito yang terletak di kawasan Kebayoran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=50&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/mall-taman-anggrek.jpg" title="mall-taman-anggrek.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/mall-taman-anggrek.jpg?w=455" alt="mall-taman-anggrek.jpg" /></a></p>
<p>Tahun ini, tekad pemerintah DKI Jakarta untuk menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tanah ibu kota semakin bulat. Salah satu langkah yang dilakukannya, pemerintah semakin rajin melakukan pembongkaran bangunan yang berdiri di kawasan RTH. Sepanjang dua bulan ini saja, sudah ada dua lahan yang digusur.</p>
<p>Incaran pertama adalah Pasar Barito yang terletak di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Akhir Januari lalu, ratusan toko ikan hias dan bunga yang diresmikan mantan Gubernur DKI Ali Sadikin ini rata dibuldoser alat berat. Para pedagang yang telah menempati lahan itu sejak puluhan tahun lalu hanya bisa meratapi tumpuan hidup mereka hancur berantakan. Menurut<b> </b>Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Budiman Simarmata, lahan itu akan dikembalikan ke konsep semula, menjadi Taman Ayodya.</p>
<p>Masih hangat tayangan pembongkaran di Pasar Barito, awal pekan lalu aksi pembokaran terulang kembali. Kali ini giliran Pasar Rawasari yang menjadi target pembersihan Pemda Jakarta Timur. Tak berbeda dengan aksi terdahulu, pembongkaran ini pun dilakukan atas nama pengembalian ruang terbuka hijau yang semakin langka.<span id="more-50"></span></p>
<p>Selain bangunan liar, Pemda juga menargetkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di taman atau jalur hijau. Menurut Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Sarwo Handayani, sebanyak 27 dari 31 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berada di taman atau jalur hijau akan digusur. 27 SPBU itu berada di kawasan Semanggi, Kwitang, Hayam Wuruk, Abdul Muis, Pejompongan, Lapangan Ros, dan beberapa lokasi lainnya. Setelah ditutup dan dibongkar, lahan itu akan diubah kembali menjadi taman. &#8220;SPBU-SPBU itu berdiri di lahan milik Pemprov DKI Jakarta dan tidak memiliki izin pendirian. Setelah digusur, Pemprov tidak akan memberi alternatif lokasi baru bagi para pengelolanya,&#8221; kata Sarwo.</p>
<p>Bila benar pemerintah berencana mengembalikan RTH yang sudah beralih fungsi, tekad itu memang perlu didukung. Karena nilai ekonomi akibat kerusakan dan pengalihfungsian RTH yang harus ditanggung masyarakat sangat luar biasa. &#8220;Infeksi saluran pernapasan, stres, kemacetan sampai banjir. Jangan heran bila Jakarta sering terhantam banjir. Daerah yang tidak pernah banjir menjadi banjir. Atau daerah yang tadinya banjir hanya 20 senti menjadi satu meter,&#8221; kata Pakar Tata Kota Nirwono Joga kepada <i>Jurnal Nasional</i>. Intinya, langkah itu dilakukan untuk kepentingan bersama.</p>
<p>Namun arsitek lanskap lulusan Australia ini mengingatkan, tekad tersebut harus didukung dengan penuh kehati-hatian. Karena banyak fakta menunjukkan, Pemda DKI kerap mengambil kebijakan berstandar ganda. Di satu sisi, pemerintah menggusur pasar-pasar tradisional untuk pembangunan RTH. Namun di sisi lain pemda juga terus mengizinkan pendirian bangunan besar di ruang hijau. &#8220;Tahun lalu saja, tercatat 70 izin pembangunan mall baru dikeluarkan pemerintah ,&#8221; kata Nirwono lagi.</p>
<p>Bukti inkonsistensi lain juga bisa dilihat nyata dari konstruksi bangunan Kantor Walikota Jakarta Selatan yang terletak di Jalan Prapanca, Kebayoran Baru. Bangunan itu berdiri di ruang terbuka hijau yang dulunya adalah taman makam. &#8220;Pemda menggusur makam untuk dijadikan kantor walikota Jakarta Selatan,&#8221; ujar penulis buku berjudul Komedi Lenong Satire Ruang Terbuka Hijau ini.</p>
<p>Menurut Nirwono, bila pemerintah menggusur Pasar Barito atau Pasar Rawasari. Pemda juga harus berani membongkar paksa bangunannya sendiri atau bangunan besar lain yang berdiri di jalur hijau. Salah satunya jalur hijau di Kawasan Senayan. Hotel Mulia, Plaza Senayan, Sudirman   Place dan bangunan-bangunan baru lainnya berdiri di atas RTH. Kalaupun bangunan-bangunan besar itu memiliki izin, maka izin itu menyalahi aturan dan pemberi izin harus diberi sanksi dan dituntut secara hukum.</p>
<p>&#8220;Mall Taman Anggrek juga berdiri di atas ruang terbuka hijau. Sebelum dijadikan mall, bangunan tersebut merupakan hutan kota. Begitu pun Mega Mall Pluit di Bekasi yang dulunya situ penakaran buaya. Tetapi apakah pemerintah berani membongkar Mall Taman Anggrek?&#8221; kata dia lagi. <b></b></p>
<p><b>Rizky Andriati Pohan</b></p>
<p><i>(Tulisan ini</i> <i> dimuat  dalam harian JurnalNasional edisi 18 Februari 200)</i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=50&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2008/02/17/uji-nyali-gusur-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/mall-taman-anggrek.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mall-taman-anggrek.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1000 Kisah Jawa di Ullen Sentalu</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/1000-kisah-jawa-di-ullen-sentalu/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/1000-kisah-jawa-di-ullen-sentalu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 12:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/1000-kisah-jawa-di-ullen-sentalu/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Museum Ullen Sentalu menyimpan segudang kisah menarik yang selama ini terkubur di balik tembok keraton Yogya dan Solo. Museum kebudayaan Jawa Ullen Sentalu, terletak di Jl. Boyong di daerah Kaliurang Atas Yogyakarta. Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan sebuah petuah yang cukup terkenal dalam bahasa Jawa ulating blencong sejatine tatarane lumaku—terjemahan kasarnya pelita kehidupan. Dinamakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=47&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"> <a href="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/ulen-sentalu.jpg" title="ulen-sentalu.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/ulen-sentalu.jpg?w=455" alt="ulen-sentalu.jpg" /></a><br />
Museum Ullen Sentalu menyimpan segudang kisah menarik yang selama ini terkubur di balik tembok keraton Yogya dan Solo. Museum kebudayaan Jawa Ullen Sentalu, terletak di Jl. Boyong di daerah Kaliurang Atas Yogyakarta. Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan sebuah petuah yang cukup terkenal dalam bahasa Jawa <i>ulating blencong sejatine tatarane lumaku</i>—terjemahan kasarnya pelita kehidupan.</p>
<p class="MsoNormal">Dinamakan demikian karena museum ini memang didirikan agar bisa menjadi “pelita” agar masyarakat Jawa tak melupakan begitu saja sejarahnya yang kaya. Museum ini didirikan di tahun 1980-an oleh Yayasan Ulating Blencong, sebuah yayasan yang bertujuan untuk melestarikan tradisi sekaligus merekam sejarah keraton di solo dan Yogya.</p>
<p class="MsoNormal">Bangunan museum yang didirikan di sebuah lahan seluas 1,7 hektar ini dirancang oleh DR. Samuel Wedyadiningrat, DSB.Konk, seorang ahli bedah kanker di Rumah Sakit Darmais sekaligus ketua Yayasan Ulating Blencong saat itu.</p>
<p class="MsoNormal">Awal berdiri, museum ini hanya boleh dikunjungi keluarga keraton. Barulah pada 1997 museum mulai dibuka untuk umum. Saat dibuka belum banyak orang yang mengetahui keberadaan museum ini. Pun saat ini, keberadaan museum ini seolah “bersembunyi” dari padangan khalayak ramai.</p>
<p class="MsoNormal">Karena awalnya tak dimaksudkan untuk konsumsi umum, museum ini berada di daerah yang agak sulit dijangkau, letaknya di atas bukit, sementara hanya ada satu penanda jalan menuju museum ini, cetakan huruf di penanda itupun sudah mulai memudar sehingga agak sulit dibaca. Orang yang baru pertamakali berkunjung harus banyak-banyak bertanya agar tak tersesat.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk masuk, biaya yang harus dikeluarkan relatif mahal. Pihak museum memasang tarif Rp 15.000 untuk pelajar dan mahasiswa, dan Rp.25.000 untuk umum. Sementara wisatawan asing harus membayar Rp. 50.000 untuk masuk ke museum ini.</p>
<p class="MsoNormal">Namun ternyata jumlah uang yang harus dikeluarkan itu amat sepadan dengan pelayanan yang diberikan pihak museum. Sekecil apapun sebuah rombongan, pihak museum menyediakan seorang guide untuk memandu setiap rombongannya.</p>
<p class="MsoNormal">Museum dibagi menjadi tujuh bagian besar: Ruangan Selamat Datang, Guwo Selo Giri, sebuah ruangan bawah tanah dengan arsitektur yang mirip arsitektur <i>Gothic</i>, Kampung Kambangan (atau kampung di atas air), Taman, serta sebuah galeri yang dinamai Djagad Akademik Modern Art Gallery.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-47"></span>Kampung Kambangan dibagi menjadi beberapa ruangan kecil: Ruangan Tinneke , Ruangan Paes Ageng Yogyakarta, Ruangan Vorstendlanden Batik, Ruangan Batik<span>  </span>Pesisiran dan Ruangan Gusti Nurul.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Ruangan pertama, Ruangan Selamat Datang, semacam ruangan “pemanasan” yang memberikan gambaran kasar kepada pengunjung tetang isi museum secara keseluruhan. Ruangan ditata apik dengan pencahayaan yang sedikit temaram Di dalamnya salah satu sudut ruangan ini terpampang gambar ibu Hartini, istri keempat Presiden Soekarno</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">“ Konon kebiasaan ibu Hartini yang selalu mengenakan kebaya dan batik dalam berbagai acara kenegaraanlah yang kemudian mendorong Presiden Soekarno untuk menjadikan kebaya dan batik sebagai pakaian nasional. Sebelumnya Soekarno sudah mengetahui banyak hal tentang Batik dari istri keduanya, Ibu Inggit Ganarsih,” ujar Wiwin, yang memandu rombongan mengelingi museum ini. Hartini adalah salah satu pelindung museum yang didirikan pada tahun 1980-an ini.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Ruangan ini juga memajang foto-foto Kassian Cephass, orang yang dianggap sebagai fotografer pertama di Indonesia. Foto-foto itu menampilkan sosok sensual beberapa orang perempuan pekerja perkebunan.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Di ruangan ini pulalah terpampang foto Hartini Djayadiningrat.<span>  </span>Putri Mangkunegara VII dari salah seorang selirnya. Beliau terkenal cerdas, dan selama hidupnya ia telah membuat beberapa buah buku diantaranya yang cukup terkenal adalah Ande-Ande Lumut. Partini kemudian menikah dengan seorang bansawan dari Banten DR. Hussein Djayadininingrat. “ Partini adalah juga nenek dari sutradara terkenal Dimas Djayadiningrat,” ujar Wiwin. Pengetahuannya yang cukup luas mengenai silsilah keluarga kerajaan hingga saat inilah yang membuat keterangannya menjadi lebih menarik untuk disimak.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Ruangan selanjutnya Guwo Selo Giri, memajang gambar-gambar tokoh-tokoh kerajaan yang menonjol. Dalam ruangan ini juga pengunjung mendapat cerita-cerita kecil yang menarik semisal bagaimana Hamengkubuwono IX biasa dipanggil Prince Hengky oleh Induk Semangnya. Atau Pakubuwono 12 yang juga kerap dipanggil Bobby oleh orang Belanda teman-temannya.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Yogyakarta masih berbentuk kerajaan. Hamengkubuwono IX dan Pakubuwono XII memprakarsai bersatunya Yogyakarta dengan Indonesia. Oleh karena inilah Presiden Soekarno kemudian memberikan status Daerah Istimewa bagi Yogyakarta.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Wiwin juga menceritakan kecerdikan Hamengkubuwono IX, “ saat Jepang masuk ke Indonesia, rakyat Yogya terancam kerja paksa Romusha.” Demi menghindari hal ini, Sultan pun menyampaikan maksudnya kepada pihak Jepang untuk membangun Selokan Mataram.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">” Alasan Sultan waktu itu, keberadaan selokan akan memperlancar pengairan dan menyuburkan tanaman padi, yang sudah pasti akan membantu logistik Jepang,” ujar Wiwin. Pihak Jepang setuju dan banyak rakyat Yogya yang terselamatkan dari kerja rodi.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Dalam ruangan ini terpajang juga foto Pakubuwono 10, raja terkaya di pulau Jawa. Pada 1907 ia menjadi orang pertama yang mampu membeli mobil. Pakubuwono 10 memiliki dua orang permaisuri, 39 orang selir dan 63 orang anak.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Menuju bagian museum yang lain, Kampung Kambangan atau kampung di atas air, pengunjung akan diajak masuk ke dalam beberapa ruangan kecil. Salah satunya adalah ruangan Gusti Nurul. Ruangan ini menampilkan foto-foto Gusti Nurul dalam berbagai usia, juga barang-barang yang biasa digunakannya saat masih berada dalam keraton.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Cerita hidup Gusti Nurul memang cukup menarik untuk disimak, beliau dilahirkan pada 1921 oleh Ratu Timur, permaisuri Mangkunegara Tujuh. Saat lahir orangtuanya memberinya nama Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamari Nasaratih Kusumawardhani. Meski tumbuh dibalik tembok keraton, sang putri yang disekolahkan di sekolah Belanda, memiliki gaya dan pandangan hidup yang terhitung amat modern untuk masanya.</p>
<p class="MsoNormal">Sang putri gemar berkuda (sesuatu yang saat itu amat ditabukan untuk seorang putri keraton), juga berenang, dan amat mahir bermain tenis. Ayahnya mengamini kegemaran putrinya ini dengan membelikan seekor kuda khusus dari Australia.</p>
<p class="MsoNormal"> Gusti Nurul tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas, juga tak segan mengemukakan pendapatnya. Banyak sekali yang mengagumi putri yang satu ini, Presiden Soekarno adalah salah satunya. Sebegitu terpesonanya ia pada sang putri, sampai-sampai saat ia mengundang Gusti Nurul ke Vila Cipanas, ia khusus meminta pelukis Basuki Abdullah untuk mengabadikan sosok Gusti Nurul dalam lukisan. Lukisan itu kemudian dipajang di kamar kerja Soekarno di Vila Cipanas.</p>
<p class="MsoNormal"> Hal lain yang amat istimewa, Gusti Nurul adalah putri pertama yang secara tegas menolak dipoligami. Oleh karena pandangan tegas inilah Gusti Nurul baru mau menikah saat usianya menginjak tiga puluh tahun. Saat ini Gusti Nurul yang telah berusia delapan puluh enam tahun hidup di Bandung.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Kampung Kambangan masih memiliki beberapa ruangan lain yang secara khusus bercerita tentang batik. Sementara Ruangan terakhir, ruang Paes Ageng, menampilkan pakaian pengantin, serta lukisan yang berhubungan dengan pesta pernikahan yang biasa diadakan di kesultanan.</p>
<p>Untuk nyaman mengelilingi seluruh ruangan yang ada di museum ini dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Pengunjung akan mendapatkan cerita yang lengkap mengenai perbagai benda serta tokoh-tokoh menarik yang telah memberi warna dalam perjalanan sejarah keraton Yogya dan Solo.<br />
Oleh karena itu sebaiknya jangan mengunjungi museum ini di hari libur, sebab guide yang disediakan pihak museum terbatas. dan saat ramai, besar kemungkinan pengunjung harus menunggu cukup lama hingga rombongan sebelumnya menyelesaikan tur mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah puas mengelingingi seluruh sudut museum, pengunjung biasanya diminta mengisi buku tamu sembari disuguhi segelas minuman khusus dengan rasa jahe yang terasa hangat di tenggorokan saat disesap. “ Ramuan ini dibuat dengan resep rahasia yang kerap diminum para putri keraton. Konon, jika rajin meminum ramuan ini, kita bisa awet muda,” ujar Wiwin.</p>
<p class="MsoNormal"><b>Dwi Fitria</b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=47&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/1000-kisah-jawa-di-ullen-sentalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2008/02/ulen-sentalu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ulen-sentalu.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gender di China</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/gender-di-china/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/gender-di-china/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 12:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penduduk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/gender-di-china/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan jumlah penduduk lebih dari 1 miliar orang, China pun masih menghadapi masalah kependudukan lain, yakni kelebihan jumlah anak laki-laki. Berdasarkan sensus terbaru, rasio anak laki-laki dan perempuan di Negeri Panda adalah 120:100. Angka ini menunjukkan ketidakseimbangan populasi terbesar di dunia. Seiring fenomena ini, berbagai masalah sosial pun mengintai Negeri Tirai Bambu. Huang Ying, Dosen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=48&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan jumlah penduduk lebih dari 1 miliar orang, China pun masih menghadapi masalah kependudukan lain, yakni kelebihan jumlah anak laki-laki. Berdasarkan sensus terbaru, rasio anak laki-laki dan perempuan di Negeri Panda adalah 120:100. Angka ini menunjukkan ketidakseimbangan populasi terbesar di dunia. Seiring fenomena ini, berbagai masalah sosial pun mengintai Negeri Tirai Bambu.</p>
<p>Huang Ying, Dosen Jurusan Seksual dan Gender di Universitas Renmin, Beijing mengatakan, masalah ini dipicu keyakinan China bahwa anak laki memiliki status sosial lebih tinggi ketimbang anak perempuan.</p>
<p>&#8220;Tak bisa dipungkiri, fenomena sosial ini terkait dengan budaya masyarakat. Orang China masih berpikir anak laki-laki akan menjadi tulang punggung bagi keluarga dan menjaga orang tua kala tua. Karena anak perempuan akan ikut dengan suaminya bila dia menikah,&#8221; kata Huang.</p>
<p>Sayangnya, Huang menambahkan, mereka tidak berpikir bahwa di masa depan anak laki-laki itu membutuhkan seorang perempuan untuk dinikahi. Dengan demikian, menurut Huang, peningkatan jumlah pekerja industri seks di China menjadi salah satu ancaman terbesar. Prostitusi dan perdagaan perempuan juga diperkirakan akan bertambah di wilayah-wilayah dengan jumlah bujangan tinggi.</p>
<p>Fenomena ketidakseimbangan penduduk ini sebenarnya berkaitan erat dengan ledakan penduduk di negeri itu. Untuk memecahkan masalah populasi, China membuat kebijakan satu anak pada awal 1980an. Sejak 1982 pemerintah juga membagikan mesin ultrasono di seluruh pelosok negeri.<span id="more-48"></span></p>
<p>Namun kebijakan ini membuat masalah baru. Pasalnya para orang tua berupaya meyakinkan bahwa janin bayi harus berjenis kelamin laki-laki. Mereka pun menggunakan mesin itu mengecek jenis kelamin jabang bayi. Bila mengetahui jenis kelamin jabang bayi adalah perempuan, tak jarang pasangan suami istri di China memilih untuk mengaborsinya. Menurut data kelompok konservatif, akibatnya sekitar 80 juta bayi perempuan diaborsi selama 20 tahun kebijakan satu anak diterapkan.</p>
<p>Maka tak heran bila sekolah-sekolah dasar di China kini dipenuhi anak laki-laki. Seperti di salah satu sekolah dasar di Provinsi Jiangxi, selatan China. Jumlah anak perempuan di sekolah tersebut sedikit. Di sekolah yang memiliki 7.000 siswa itu, rasio anak perempuan dan laki-laki adalah 100: 150.</p>
<p>Kebijakan satu anak kini telah berusia 25 tahun. Dengan demikian, terdapat 40 juta laki-laki yang lahir selama kebijakan tersebut dimulai. Maka diperkirakan pula 40 juta laki-laki itu akan menjalankan hidup mereka sebagai bujangan.</p>
<p>Pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi peningkatan angko aborsi ini. Zhao Baige, Wakil Menteri Badan Perencanaan Keluarga sudah mengeluarkan larangan penggunaan mesin ultrasono untuk mengecek jenis kelamin jabang bayi.</p>
<p>&#8220;Tindakan itu melanggar hukum,&#8221; kata Zhao kepada <i>CBS</i>.</p>
<p>Perempuan hamil masih bisa memimiliki ultrasono, namun bila dianggap dibutuhkan untuk kepentingan medis. Untuk menjamin bahwa jenis kelamin jabang bayi tidak ketahuan, dua dokter akan didatangkan selama penggunaan alat itu. Proses itu juga akan direkam. Bila dokter itu ketahuan memberi tahu jenis kelamin bayi maka mereka akan dipecat.</p>
<p>Sayangnya kebijakan pemerintah China ini tidak efektif. Pasalnya mesin ultrasono dijual bebas dengan harga sekitar US$360 (Rp3,2 juta) di toko-toko gelap. Ukuran mesin yang tidak terlalu besar juga membuat benda ini sangat mudah disembunyikan baik di dalam mobil atau di kamar mandi. Inilah yang akhirnya menyebabkan tingkat aborsi terus tinggi.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, seorang polisi menangkap seorang perempuan yang tengah menggunakan mesin tersebut di dalam mobilnya.</p>
<p>Menurut Valerie Hudson, pakar ilmu politik, fenomena China ini juga diprediksi akan meningkatkan angka kriminalitas.</p>
<p>&#8220;Saat terdapat ketidakseimbangan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan maka akan terjadi peningkatan jumlah kriminalitas dan instabilitas sosial,&#8221; kata Hudson pakar ilmu politik dari Univeritas Brigham Young University yang menulis buku Surplus Laki-laki Asia.</p>
<p>Hal ini diamini oleh Zhao Baige. Dia mengakui China memang telah merasakan tuah dari ketidakstabilan jumlah penduduk. Sejak beberapa tahun belakangan, terdapat fenomena perdagangan anak perempuan. Banyak bayi atau anak perempuan dijual dan kemudian dibesarkan untuk dijadikan istri.</p>
<p>&#8220;Belum lama ini, polisi China menemukan satu tas besar berisi 28 anak bayi perempuan, berusia dua hingga lima bulan di rak atas bus. Bayi-bayi lucu itu dijual oleh keluarga mereka senilai US$8 (Rp80.000) per bayi,&#8221; kata Hudson.</p>
<p>Menurut Hudson, mereka dijual kepada keluarga yang akan mengasuh mereka. Kelak dewasa, dia akan dinikahkan dengan anak laki-laki keluarga tersebut.</p>
<p>Sedangkan anak perempuan yang lebih dewasa diculik dan dijual kepada laki-laki yang hendak menikah.</p>
<p>Oleh karena itu saat ini pemerintah tengah melakukan kampanye anak perempuan. Mereka membuat reklame di jalanan-jalan yang menuliskan bahwa anak laki-laki lebih hebat dari anak perempuan adalah sebuah paradigma lama. Pemerintah juga telah mengurangi biaya sekolah bagi anak perempuan serta mengubah hukum waris bagi anak perempuan.</p>
<p>Pemerintah juga akan memberikan uang tunai bagi orang tua yang memiliki anak perempuan. Setelah berusia 60 tahun, pemerintah akan memberikan uang sebesar US$150 (Rp1,3 juta) per tahun.&#8221;Bukan gaji, hanya insentif,&#8221; kata Zhao.</p>
<p><b><span style="font-size:12pt;">Rizky Andriati Pohan</span></b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=48&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2008/01/18/gender-di-china/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungai Jakarta Masih Bisa Dijernihkan</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2007/12/25/sungai-jakarta-masih-bisa-dijernihkan/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2007/12/25/sungai-jakarta-masih-bisa-dijernihkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 05:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2007/12/25/sungai-jakarta-masih-bisa-dijernihkan/</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda ditanya atau diminta untuk masuk kesalah satu sungai yang mengalir di jantung kota Jakarta, apa kira-kira yang akan Anda jawab? ”Ogah ah, jorok” atau ”Siapa takut&#8230;?”. Tapi siapa yang bisa menyangkal, bagi Anda mungkin memang jijik, lihat saja kondisinya yang penuh sampah dan terlihat menghitam dengan bau menyengat, namun ternyata ada juga beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=41&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/lingkungan-sungai4.jpg" title="lingkungan-sungai4.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/lingkungan-sungai4.jpg?w=455" alt="lingkungan-sungai4.jpg" /></a><br />
<span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Jika Anda ditanya atau diminta untuk masuk kesalah satu sungai yang mengalir di jantung kota Jakarta, apa kira-kira yang akan Anda jawab? ”O<i>gah ah</i>, jorok” atau ”Siapa takut&#8230;?”. Tapi siapa yang bisa menyangkal, bagi Anda mungkin memang jijik, lihat saja kondisinya yang penuh sampah dan terlihat menghitam dengan bau menyengat, namun ternyata ada juga beberapa orang yang berani nyempelung untuk mengais rejeki. Yah, begitulah hidup&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Bagi Anda bila merasa jijik karena terlalu banyak sampah menumpuk disana, lalu, pertanyaan kenapa bisa? siapa yang salah? dan lalu harus bagaimana? bisa g sih dibersihkan?</span><span id="more-41"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Memang, tiga belas sungai yang mengalir di kota Jakarta, kini semuanya dalam kondisi yang tidak sehat. Dalam perjalanan menuju ke laut, sebenarnya aktivitas manusialah yang membuat air tersebut tampak keruh, menghitam dan menimbulkan bau yang menyengat. Termasuk Anda-anda yang membaca tulisan ini adalah salah satu yang menyumbangnya. Bagaimana mungkin?, yah segalanya tetap mungkin, dari satu sampah terbuang maka dengan 10 juta penduduk Jakarta, sampah yang satu itu telah terkumpul menjadi 10 juta sampah. Wooo.. jumlah yang cukup banyak bukan. Jika setengahnya saja sampah itu adalah sampah organik, maka sudah barang tentu sampah itu menjadi makanan bakteri dan pada akhirnya harus membusuk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Itu hanya sampah satu hari, bagaimana jika satu, dua, tiga bulanatau bahkan bertahun-tahun? Atau mungkin g sih kita tidak membuang sampah dalam satu hari? Itu ”PR” kita&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sudah jelas bila diamati lebih seksama, tumpukan sampah yang ikut terbawa dan mengalir, semakin memperparah buruknya pemandangan air sungai. Tidak hanya manusia yang enggan untuk menyentuh air tersebut, bahkan ikan-ikan pun tidak mau lagi lalu lalang di sana. Mungkin hanya ada belut disana&#8230;<span>  </span>saya pernah melihatnya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Lalu bagaimana cara mengembalikannya air tersebut agar terlihat jernih kembali</span></i><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">? Secara umum, penjernihan air dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui cara biologi atau dengan cara fisika-kimia. Cara biologi, dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai media pengurai senyawa, sedangkan dengan cara fisika-kimia dapat dilakukan dengan memisahkan kandungan senyawa kimia dari air. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sayangnya, tidak semua limbah tersebut adalah limbah yang mudah terurai. Salah satu Doktor dari </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi LIPI, Anto Tri Sugiarto menuturkan bahwa dengan berkembangnya teknologi manufaktur dalam industri, kini telah banyak limbah rumah tangga yang tidak lagi dapat diuraikan oleh alam secara mudah. “Intinya manusia harus menambahkan metode khusus untuk menguraikan limbah tersebut secara cepat,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Peneliti pencemaran air dan lingkungan LIPI, Edi Iswanto Wiloso menambahkan dalam aliran sungai yang menghitam dengan bau yang menyengat sering kali ditemukan materi-materi berbau, berwarna, beracun (B3). Akibat industri yang semakin maju, sampah-sampah dan limbah yang terbuang mengalir ke sungai kini banyak yang mengandung logam berbahaya, seperti tembaga (Cu), crom (Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni) tidak dapat diurai dengan mudah. Akibat banyaknya senyawa organik dan anorganik yang terus menumpuk, pembersihan air kini menjadi semakin sulit dan mahal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Anto menyebutkan, pada tahun 2004, kelompok penelitian instrumentasi lingkungan Pusat Penelitian KIM telah berhasil menciptakan sebuah konsep terbaru pengolahan air limbah. Tim ini berhasil mendesain sebuah prototip unit pengolah air limbah bergerak dengan metode <i>advanced oxidation processes</i> (AOP), yang kemudian dikenal dengan sebutan Oksida.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Oksida, merupakan sebuah unit pengolahan air limbah yang dapat dipergunakan secara bergerak (<i>mobile</i>) maupun secara tetap (<i>stationary</i>). Unit bergerak oksida tidak memerlukan area instalasi yang luas. Sehingga oksida dapat memenuhi kebutuhan industri kecil menengah atau rumah sakit dan puskesmas yang tidak memiliki area yang luas untuk instalasi pengolahan air limbahnya. Sedangkan untuk industri-industri besar oksida dapat diinstalasikan secara tetap seperti halnya sistem IPAL yang ada.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>“Secara konsep oksida terdiri dari unit oksidasi, koagulasi, sedimentasi dan filtrasi,” kata Anto. Menurutnya, dalam proses pengolahan, semua jenis pencemar organik dan anorganik diproses pada unit ini. Dalam teknologi proses oksidasi lanjutan (AOP) kesemuanya sebenarnya merupakan satu kombinasi dari beberapa proses seperti <i>ozone, hydrogen peroxide, ultraviolet light, titanium oxide, photo catalyst, sonolysis, electron beam, electrical discharges </i>(plasma) serta beberapa proses lainnya untuk menghasilkan hydroxyl radikal. Hydroxyl radikal ini adalah spesies aktif yang dikenal memiliki oksidasi potensial tinggi 2.8 V melebihi ozone yang memiliki oksidasi potensial hanya 2.07 V.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Kuncinya, menurut Anton yaitu terdapat pada Hydroxyl radikal yang dihasilkan dari proses photolisis ozon dengan ultraviolet. Senyawa ini mudah bereaksi dengan senyawa organik apa saja tanpa terkecuali, terutama senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau tidak dapat diuraikan dengan metode mikrobiologi atau membran filtrasi. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>“Hal ini, membuat hydroxyl radikal lebih aktif dan sangat mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain yang ada di sekitarnya,” terangnya sambil menyebutkan bahwa teknologi ini adalah satu-satunya solusi cerdas<span>  </span>dan murah untuk menjernihkan berbagai jenis limbah cair yang berasal dari industri tekstil, kimia, farmasi, makanan, limbah domestik dan rumah sakit. Bahkan ia menuturkan, dengan menggunakan alat ini, sungai-sungai yang mengalir di Jakarta, Bekasi, Tengerang, dan kota-kota besar lainnya kini dapat disulap kembali menjadi sungai-sungai yang jernih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Ia menjelaskan, prinsip kerja alat ini bekerja secara berseri. Artinya, unit koagulasi dan sedimentasi yang dipasangkan setelah unit oksidasi bekerja sebagai penerus dari proses sebelumnya. “Senyawa anorganik seperti, logam, mikro polutan serta hasil sisa dari proses oksidasi diproses melalui proses koagulasi dan sedimentasi pada tahapan ini,” terangnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Menurutnya, koagulan yang dipergunakan sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhannya. Hanya saja, koagulan yang ada diharapkan berkarakteristik netral.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Unit terakhir pada oksida adalah unti filtrasi. Berbagai mikro polutan yang masih dapat melewati tahapan koagulasi dan sedimentasi akan diproses pada tahapan ini. Umumnya dipergunakan media karbon aktif, mangan zeolite atau membran sesuai dengan kebutuhan dilapangan. Setelah melalui runutan proses tersebut, air limbah yang diproses benar-benar lebih bersih dan dan dapat digunakan kembali. Karena senyawa yang ada telah dipecah dan dimurnikan.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=41&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2007/12/25/sungai-jakarta-masih-bisa-dijernihkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/lingkungan-sungai4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lingkungan-sungai4.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kompor Surya</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/kompor-surya/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/kompor-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 09:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/kompor-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi Kompor yang menggunakan panas matahari sebagai bahan bakar tengah di kembangkan di Indonesia. Meski penggunanya masih minoritas teknologi ini dapat menjadi alternatif bahan bakar yang umum digunakan saat ini. (Klik pada gambar untuk melihat selengkapnya) Riset oleh Agus dd, Infografis oleh Esthi E.S (Infografis ini pernah dimuat dalam harian JurnalNasional edisi September 2007)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=33&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teknologi Kompor yang menggunakan panas matahari sebagai bahan bakar tengah di kembangkan di Indonesia. Meski penggunanya masih minoritas teknologi ini dapat menjadi alternatif bahan bakar yang umum digunakan saat ini.</p>
<p><em>(Klik pada gambar untuk melihat selengkapnya)<br />
</em></p>
<p><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_kompor-surya-0709.jpg" title="teknologi_kompor-surya-0709.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_kompor-surya-0709.jpg?w=455" alt="teknologi_kompor-surya-0709.jpg" /></a><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_kompor-surya-0709.jpg" title="teknologi_kompor-surya-0709.jpg"> </a></p>
<p><strong>Riset oleh Agus dd, Infografis oleh Esthi E.S</strong></p>
<p>(<em>Infografis</em> <em>ini  pernah dimuat  dalam harian JurnalNasional edisi September 2007)</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=33&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/kompor-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_kompor-surya-0709.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teknologi_kompor-surya-0709.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumber Pemanasan Global di Indonesia</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/sumber-pemanasan-global-di-indonesia/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/sumber-pemanasan-global-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 08:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/sumber-pemanasan-global-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia menjadi salah satu kontributor pemanasan global, benarkah?. Infografis berikut ini akan menceritakan bagaimana proses terjadinya efek rumah kaca dan menggambarkan besarnya penghasil emisi CO2 beberapa negara di dunia. Terlihat memang kerusakan hutan di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. (Klik pada gambar untuk melihat selengkapnya)  Riset oleh Agus dd, Infografis oleh Esthi E.S (Infografis ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=32&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia menjadi salah satu kontributor pemanasan global, benarkah?. Infografis berikut ini  akan menceritakan bagaimana proses terjadinya efek rumah kaca dan menggambarkan besarnya penghasil emisi CO2 beberapa negara di dunia. Terlihat memang kerusakan hutan di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya.</p>
<p><em>(Klik pada gambar untuk melihat selengkapnya) </em></p>
<p><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_pemanasan-070806.jpg" title="teknologi_pemanasan-070806.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_pemanasan-070806.jpg?w=455" alt="teknologi_pemanasan-070806.jpg" /></a></p>
<p><strong>Riset oleh Agus dd, Infografis oleh Esthi E.S</strong></p>
<p>(<em>Infografis</em> <em>ini  pernah dimuat  dalam harian JurnalNasional edisi 6 Agustus 2007)</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=32&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2007/12/18/sumber-pemanasan-global-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/teknologi_pemanasan-070806.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">teknologi_pemanasan-070806.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Radhika India gender diskriminasi</title>
		<link>http://fplh.wordpress.com/2007/12/14/radhika-india-gender-diskriminasi/</link>
		<comments>http://fplh.wordpress.com/2007/12/14/radhika-india-gender-diskriminasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 12:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fplh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penduduk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fplh.wordpress.com/2007/12/14/radhika-india-gender-diskriminasi/</guid>
		<description><![CDATA[Nafas Radhika (25) tersengal-sengal. Peluh masih bercucuran di wajahnya. Lelah. Namun itu tidak ada artinya setelah dia mendengar suara tangis bayi. Kebahagiaan tak terhingga menyelimuti karena dia telah berhasil melahirkan seorang bayi perempuan setelah melewati porses persalinan selama tiga jam. Perjuangannya merawat dan berbagi kehidupan dengan si jabang bayi selama sembilan bulan tak sia-sia. Bayi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=19&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/internasional_gender2.jpg" title="internasional_gender2.jpg"><img src="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/internasional_gender2.jpg?w=455" alt="internasional_gender2.jpg" /></a><a href="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/internasional_gender.jpg" title="internasional_gender.jpg"> </a></p>
<p>Nafas Radhika (25) tersengal-sengal. Peluh masih bercucuran di wajahnya. Lelah. Namun itu tidak ada artinya setelah dia mendengar suara tangis bayi. Kebahagiaan tak terhingga menyelimuti karena dia telah berhasil melahirkan seorang bayi perempuan setelah melewati porses persalinan selama tiga jam. Perjuangannya merawat dan berbagi kehidupan dengan si jabang bayi selama sembilan bulan tak sia-sia. Bayi yang masih merah itu terlahir sehat walafiat. Lucu, menggemaskan dan wajahnya sangat mirip dengan Rajesh, suami Radhika.</p>
<p>Namun seketika kebahagiaan Radhika tersaput berita tak menyenangkan. Tak ada satu pun keluarga Rajesh yang datang menjenguknya di rumah sakit. Tidak juga Rajesh bersedia menemaninya selama berjuang antara hidup dan mati. Keluarga Rajesh tidak memiliki banyak alasan mengenai ketidakhadiran mereka menjenguk Radhika. Hanya satu namun cukup menyentak. Mereka tidak menginginkan bayi perempuan menjadi bagian dari keturunan mereka.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p>Apa yang dialami Radhika bukanlah sepenggal adegan dalam film India yang terkenal dengan haru biru atau goyang tarinya. Ini adalah sebuah kisah nyata yang sebenarnya bukan hanya dialami oleh Radhika saja. Namun juga banyak perempuan-perempuan lain di India. Drama kehidupan ini juga tidak terjadi di sebuah lingkup keluarga miskin dan tak berpendidikan. Radhika dan sang suami justru berasal dari keluarga mapan dan berpendidikan. Fenomena ini pun tidak terjadi di sebuah desa atau daerah terpencil yang masih memegang tradisi patriarki yang kuat. Yang jelas kisah ini terjadi di Mumbai, salah satu kota besar di India. Lalu apakah salah si bayi perempuan tersebut? Di India, ada sebuah paradigma tak tertulis, sebuah keluarga yang dianugerahi anak laki-laki dianggap sebagai keluarga yang sempurna dan memiliki status sosial tinggi.</p>
<p>&#8220;Bagi masyarakan India, perempuan yang tidak bisa hamil dan melahirkan disebut tidak sempurna. Perempuan yang bisa melahirkan anak perempuan adalah perempuan sempurna. Hanya perempuan yang bisa memiliki anak laki-laki saja yang bisa menikmati status istimewa di mata masyarakat,&#8221; kata psikiater Rajeev Sharma.</p>
<p>Perempuan akan merasa bersalah ataupun dibuat merasa bersalah bila mereka melahirkan anak perempuan. Demikian pernyataan Rekha Masilaman, Juru bicara Pathfinder International India, organisasi yang memberikan pendidikan perencanaan keluarga.</p>
<p>Persepsi ini tidak hadir begitu saja. Justru ini lahir dari sebuah tradisi yang mengakar kuat di Negeri Bombay. Di India, ada sebuah tradisi yang mengharuskan keluarga pengantin perempuan memberikan mas kawin dan hadiah perkawinan dalam jumlah besar dan tunai kepada mempelai laki-laki. Maka demikian, sebuah keluarga India yang memiliki anak perempuan biasa menyisihkan pendapatannya untuk keperluan yang satu itu.</p>
<p>&#8220;Bila kami memiliki seorang anak perempuan. Pertama-tama, kami harus mengkalkulasikan biaya pendidikannya. Baru kemudian kami menyisihkan biaya resepsi dan hadiah pernikahannya. Jumlah itu tentu akan terus bertambah. Kami juga harus menghitung dan menyokong biaya kebutuhan hidup keluarganya setelah dia menikah,&#8221; kata Jaideep Shah, senior asisten di sebuah perusahaan media India.</p>
<p>Itu sebabnya Jaideep sangat berharap bila sang istri hamil kelak, akan mengandung anak laki-laki.</p>
<p>Bias gender antara perempuan dan laki-laki di Negeri Bollywood ini juga terjadi karena anak laki-laki dianggap sebagai asuransi atau penyokong keluarga.</p>
<p>&#8220;Saat saya dianugerahi anak laki-laki beberapa tahun lalu, saya dan istri sangat bahagia. Karena di masa-masa mendatang, dia adalah satu-satunya orang yang bisa membantu perekonomian keluarga. Dia juga akan menjaga kami saat kami tua kelak,&#8221; kata Senthil, pekerja di sebuah kontraktor di Mumbai.</p>
<p>Sedangkan di keluarga kaya, anak laki-laki dianggap sebagai pewaris langsung harta kekayaan keluarga. Sehingga di kalangan ini, perjuangan memperoleh anak laki-laki lebih kuat.</p>
<p>&#8220;Mereka berpikir anak laki-laki akan mewarisi dan melindungi harta kekayaan keluarga. Mereka khawatir harta mereka akan hilang bila memiliki anak perempuan,&#8221; kata Rekha Masilamani.</p>
<p>Keyakinan sebagian orang India juga menilai perempuan secara tidak adil. Menurut Manu, seorang perempuan akan dilahirkan kembali sebagai seorang laki-laki untuk melakukan penebusan dosa atau yang dikenal dengan moksha. Dalam keyakinan Hindu, Manu adalah kakek moyang manusia, raja pertama yang membuat aturan di muka bumi dan menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah.</p>
<p>Lalu orang itu tidak akan bisa melakukan moksha kecuali dia memiliki seorang anak laki-laki yang bisa menyalakan api saat jasadnya di bakar di perapian.</p>
<p>Selain itu, ada pula keyakinan, seorang perempuan yang hanya bisa melahirkan anak perempuan akan ditinggalkan di tahun ke-11 pernikahan mereka.</p>
<p>Malangnya, fenomena bias gender ini menimbulkan setumpuk masalah sosial, seperti tingginya angka aborsi bayi perempuan dan angka bunuh diri perempuan. Di India, setiap tahunnya terjadi tidak kurang dari 6000 kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para istri dan anak perempuan karena depresi. Lembaga swadaya masyarakat internasional, FHI, juga mencatat, sekitar 10 juta janin perempuan di India diperkirakan digugurkan selama lebih dari dua dekade terakhir.</p>
<p>Menurut Malavika Karlekar, Editor Jurnal Studi Gender India, perempuan yang kerap melakukan tes USG dan mengetahui janin bayinya adalah perempuan akan mengambil keputusan yang bertentangan dengan persamaan hak dan menghargai hidup seorang bayi. Mereka kerap mengambil keputusan aborsi</p>
<p>&#8220;Dalam banyak kasus, perempuan bukan agen indipenden tetapi mereka adalah korban ideologi dominan keluarga yang mengistimewakan anak laki-laki,&#8221; kata Karlekar.</p>
<p>Tingginya tingkat aborsi janin bayi perempuan ini didorong dengan kemudahan praktik aborsi oleh para dokter. Hanya segelintir dokter saja yang selektif saat hendak mengaborsi.</p>
<p>&#8220;Saya selalu selektif dalam melakukan aborsi. Saya tidak akan melakukan aborsi dengan alasan ideologi keluarga. Seharusnya bila seorang mengandung anak perempuan, maka biarkan saja. Karena dengan begini, harga dan martabat perempuan akan terangkat. Di masa-masa mendatang, seorang bayi perempuan pun akhirnya menjadi permintaan di mana-mana,&#8221; kata dokter yang enggan disebutkan namanya.</p>
<p><b>Rizky A. Pohan</b></p>
<p><i>(Tulisan ini  pernah dimuat  dalam harian JurnalNasional edisi 22 november 2007)</i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fplh.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fplh.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fplh.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fplh.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fplh.wordpress.com&amp;blog=2278061&amp;post=19&amp;subd=fplh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fplh.wordpress.com/2007/12/14/radhika-india-gender-diskriminasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aeb2020e741b604ad6a2d30950dbfa9a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fplh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fplh.files.wordpress.com/2007/12/internasional_gender2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">internasional_gender2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
